Minggu, 07 JUNI 2026 • 16:53 WIB

Supa’ad Ungkap Perjalanan Pakuwaja dari Organisasi Vakum hingga Jadi Pusat Persatuan Warga Jawa

Author

Supa’ad Hadianto Menceritakan Sejarah Berdirinya Pendopo Pakuwaja di Hadapan Warga Jawara (ist)

KALTARA  – Di balik berdirinya Pendopo Paguyuban Keluarga Warga Jawa (Pakuwaja) Kota Tarakan, tersimpan cerita perjuangan panjang yang tidak banyak diketahui generasi muda. Organisasi yang kini menjadi rumah besar warga Jawa di Tarakan itu pernah mengalami masa vakum sebelum akhirnya bangkit dan berkembang.

Kisah tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara sekaligus Penasehat Pakuwaja Kota Tarakan, Supa’ad Hadianto, saat menghadiri kegiatan silaturahmi dan arisan Ikatan Keluarga Jawa Blora (Jawara) di Perumahan Intraca, Minggu (7/6/2026).

Menurut Supa’ad, saat dirinya dipercaya memimpin Pakuwaja pada periode 2006–2010, organisasi tersebut belum menunjukkan aktivitas yang signifikan. Meski telah terbentuk, keberadaannya belum mampu menjadi wadah yang aktif bagi warga Jawa di Kota Tarakan.

“Waktu itu organisasinya ada, tetapi belum banyak kegiatan. Karena itu kami mencoba membangun kembali semangat kebersamaan warga Jawa,” ujarnya.

Baca juga: Supa’ad Hadianto Ingatkan Pentingnya Silaturahmi untuk Menjaga Soliditas Warga Blora

Berbekal dukungan para tokoh dan masyarakat, Pakuwaja kemudian mulai menggelar berbagai kegiatan sosial dan silaturahmi. Langkah tersebut menjadi titik awal kebangkitan organisasi yang sebelumnya kurang aktif.

Salah satu cita-cita besar yang muncul saat itu adalah menghadirkan sekretariat permanen sebagai pusat aktivitas warga Jawa. Menurut Supa’ad, keinginan tersebut lahir dari kebutuhan akan tempat berkumpul yang dapat dimanfaatkan seluruh paguyuban dan komunitas warga Jawa di Tarakan.

Namun untuk mewujudkannya, dibutuhkan perjuangan panjang. Selain persoalan pendanaan, pengurus juga harus menghadapi berbagai tantangan terkait ketersediaan lahan dan legalitas lokasi yang akan digunakan.

“Kalau tidak ada keberanian untuk memulai, tentu sampai sekarang belum tentu ada pendopo seperti yang kita lihat hari ini,” katanya.

Ia menjelaskan, lahan yang kini menjadi lokasi pendopo sebagian berasal dari wakaf almarhum Marjito dan sebagian lainnya diperoleh melalui pembelian yang dilakukan pada masa kepengurusannya.

Dari sebuah bangunan sederhana berbahan kayu, sekretariat Pakuwaja kemudian berkembang menjadi pendopo yang kini menjadi pusat berbagai kegiatan sosial, budaya, hingga pertemuan masyarakat Jawa dari berbagai daerah asal.

Bagi Supa’ad, keberhasilan tersebut merupakan bukti bahwa organisasi yang dikelola dengan semangat kebersamaan dan tujuan yang jelas dapat berkembang meskipun berawal dari kondisi yang serba terbatas.

Karena itu, ia mengajak warga Jawara dan seluruh masyarakat Jawa di Tarakan untuk terus menjaga semangat persatuan yang telah diwariskan para pendahulu.

“Organisasi ini besar bukan karena bangunannya, tetapi karena kebersamaan orang-orang yang ada di dalamnya,” tegasnya.

Ia berharap semangat gotong royong dan silaturahmi yang menjadi fondasi Pakuwaja dapat terus dijaga agar organisasi tetap menjadi wadah pemersatu warga Jawa di Kota Tarakan untuk generasi mendatang.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU