KALTARA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Malaysia hingga Rp22 ribu per botol, bahkan sempat mencapai Rp25 ribu, memaksa masyarakat di Pulau Sebatik menghadapi kenyataan pahit: membeli dengan harga tinggi atau menghentikan aktivitas sehari-hari.
Situasi ini diperburuk dengan minimnya pasokan BBM dari Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah SPBU, APMS, dan Pertashop di wilayah tersebut dilaporkan tutup karena kehabisan stok, membuat warga kehilangan alternatif yang lebih terjangkau.
Saharuddin, warga Sebatik, menggambarkan kondisi tersebut secara lugas. Menurutnya, masyarakat saat ini berada dalam posisi serba terpaksa.
“Aman saja, yang penting ada barangnya. Tapi harganya sekarang sudah Rp22 ribu, bahkan sempat Rp25 ribu per botol, naik dua kali lipat dari harga biasanya” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia menegaskan, dalam kondisi seperti ini masyarakat tidak lagi berbicara soal pilihan, melainkan keterpaksaan. BBM Malaysia tetap dibeli meski mahal, karena menjadi satu-satunya yang tersedia.
“Kalau BBM Indonesia kosong, ya tetap beli yang Malaysia. Daripada tidak bisa jalan,” katanya.
BBM Malaysia yang beredar diketahui memiliki kualitas setara Pertamax. Namun lonjakan harga membuat biaya hidup masyarakat meningkat, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja.
Di sisi lain, kekosongan BBM Indonesia justru terjadi ketika kebutuhan meningkat. Banyak warga yang kembali mencari BBM dalam negeri setelah harga Malaysia naik, namun distribusi yang terbatas tidak mampu memenuhi permintaan.
Dikabarkan kondisi ini memicu reaksi dari pengelola APMS di Sebatik yang telah mengajukan penambahan kuota BBM kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan. Langkah tersebut dinilai mendesak untuk segera direalisasikan guna mengatasi kelangkaan yang terjadi.
Situasi di Sebatik memperlihatkan persoalan klasik wilayah perbatasan: ketergantungan pada pasokan luar negeri dan lemahnya distribusi dalam negeri. Ketika salah satu terganggu, masyarakat langsung merasakan dampaknya.
Kini, warga hanya berharap ada langkah cepat dari pemerintah. Sebab bagi mereka, BBM bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan penopang utama kehidupan sehari-hari yang tidak bisa ditunda.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan