Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 20:04 WIB

Jejak Sejarah Nama Tarakan, Dari Tempat Singgah Nelayan hingga Simpul Peradaban Pesisir

Author

Pusat Kota Pulau Tarakan yang berada di kalimantan Utara. (ist)

KALTARA — Kota Tarakan bukan sekadar wilayah strategis di utara Kalimantan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang melekat pada identitas budaya masyarakat pesisir. Nama Tarakan sendiri diyakini berasal dari bahasa Suku Tidung, suku asli yang telah lama mendiami kawasan Kalimantan bagian utara.

Berdasarkan sejumlah sumber sejarah dan tradisi lisan masyarakat Tidung, kata Tarakan merupakan gabungan dari dua kata, yakni tarak yang berarti bertemu atau singgah, dan ngakan yang berarti makan. Secara harfiah, Tarakan dimaknai sebagai tempat untuk singgah, beristirahat, bertemu, dan makan bersama.

Makna tersebut tidak lepas dari fungsi Tarakan pada masa lampau sebagai titik pertemuan para nelayan. Pulau ini menjadi tempat singgah nelayan dari berbagai daerah sekitar, seperti Salim Batu, Tana Lia, Bunyu, hingga kawasan Sesayap. Di lokasi ini, para nelayan tidak hanya beristirahat, tetapi juga melakukan barter hasil laut serta menjalin interaksi sosial.

Selain sebagai tempat singgah, Tarakan juga memiliki fungsi strategis karena berada di pertemuan muara sejumlah sungai besar. Kondisi geografis ini menjadikan Tarakan sebagai simpul aktivitas ekonomi, perdagangan, dan mobilitas masyarakat pesisir sejak masa lalu.

Dalam literatur dan penuturan masyarakat setempat, Tarakan juga dikenal dengan sebutan lain, seperti Tengkayu, yang berarti daerah yang dikelilingi laut, serta Paguntaka, yang bermakna kampung kita. Sebutan-sebutan ini mencerminkan kedekatan masyarakat dengan laut sekaligus rasa kepemilikan bersama terhadap wilayah tersebut.

Hingga kini, nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut masih menjadi bagian dari identitas Kota Tarakan sebagai kota pelabuhan, kota jasa, dan kota yang tumbuh dari keberagaman masyarakat pesisir.

Sejarah penamaan Tarakan menjadi pengingat bahwa kota ini lahir dari semangat kebersamaan, pertemuan, dan keterbukaan—nilai yang tetap relevan dalam perjalanan Tarakan sebagai kota modern di wilayah perbatasan Indonesia. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU