Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 01 APRIL 2026 • 21:05 WIB

BMKG: Kemarau di Nunukan Mulai Berlalu, Cuaca Masuki Masa Peralihan

BMKG: Kemarau di Nunukan Mulai Berlalu, Cuaca Masuki Masa PeralihanKepala BMKG Nunukan, William Sinaga, Monitoring Data Cuaca Terkini (dv)

KALTARA  –   Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan menyebutkan bahwa kondisi kemarau di Kabupaten Nunukan mulai berangsur berlalu dan saat ini memasuki masa peralihan menuju musim hujan.


Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Nunukan, William Sinaga, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatan cuaca di Stasiun Meteorologi, dalam satu minggu terakhir kondisi cuaca di wilayah Nunukan cenderung cerah dengan curah hujan yang sangat rendah, yakni sekitar 0,2 mm.


“Artinya dalam tujuh hari terakhir hujan yang terjadi masih dalam kategori hujan ringan,” ujarnya, Rabu (01/04/2026).
Namun demikian, lanjutnya, pada pagi hari tadi terjadi hujan dengan intensitas lebat sekitar 30 mm yang turut membantu meningkatkan ketersediaan air di sejumlah wilayah.


William menjelaskan, secara umum Kabupaten Nunukan memiliki tiga zona pola musim, yakni Nunukan, Sebatik, dan wilayah 3. Dari ketiga zona tersebut, wilayah 3 atau secara geografis dikenal dengan wilayah  4 seperti sebuku, sembakung, Lumbis dan krayan, memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun sehingga tidak mengalami musim kemarau seperti dua wilayah lainnya.


“Wilayah Nunukan dan Sebatik secara normal berdasarkan data 30 tahun mengalami musim kemarau pada Februari hingga Maret dengan durasi sekitar 30 hari,” katanya.


Ia menambahkan, pada tahun 2026 ini durasi musim kemarau di Nunukan dan Sebatik sedikit lebih panjang dari kondisi normal, namun masih dalam kategori variasi iklim yang wajar.


“Untuk tahun ini kemarau hanya terjadi di Nunukan dan Sebatik, sementara wilayah 4 tetap dalam kondisi normal dengan curah hujan yang cukup,” jelasnya.


BMKG memperkirakan periode kemarau di dua wilayah tersebut masih akan berlangsung hingga dasarian kedua April atau sekitar 20 April 2026, sebelum kembali memasuki pola hujan normal.


“Jika dibandingkan kondisi normal sekitar tiga dasarian, tahun ini mencapai sekitar lima dasarian sejak Februari. Puncaknya sudah terjadi di Maret dan kini mulai berangsur berlalu,” ujarnya.


William menegaskan bahwa pola musim di Indonesia tidak seragam antarwilayah, sehingga waktu terjadinya musim hujan dan kemarau dapat berbeda-beda.


Ia juga menjelaskan bahwa penentuan musim didasarkan pada akumulasi curah hujan, di mana kondisi kering terjadi jika dalam 10 hari curah hujan di bawah 50 mm, sedangkan musim hujan jika dalam 30 hari berturut-turut melebihi 150 mm.


“Pada musim kemarau tetap ada hujan, tetapi intensitasnya tidak memenuhi ambang batas musim hujan,” tambahnya.
Terkait dampak, ia menyebut kondisi kemarau paling dirasakan di Nunukan dan Sebatik, termasuk potensi kekeringan serta risiko kebakaran hutan dan lahan. Sementara wilayah tiga relatif lebih aman karena curah hujan stabil sepanjang tahun.


William juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca sebelum beraktivitas.


“Kami mengimbau masyarakat Nunukan untuk selalu memantau informasi prakiraan cuaca melalui aplikasi Info BMKG yang dapat diunduh di Play Store, agar dapat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem,” pungkasnya.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

BMKG: Kemarau di Nunukan Mulai Berlalu, Cuaca Masuki Masa Peralihan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!