Terminal Bandara Internasional Juwata Tarakan (ist)
KALTARA - Bandara Internasional Juwata Tarakan (TRK) di Kalimantan Utara memiliki sejarah panjang, bermula sebagai pangkalan militer era kolonial Belanda dan Jepang pada 1940-an. Setelah kemerdekaan, fasilitas ini dikelola Pertamina, berkembang menjadi bandara perintis, dan kini menjadi bandara internasional utama dengan terminal baru yang diresmikan pada 2015/2016.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Bandara Juwata Tarakan:
Era Perang Dunia II (1940-an): Dibangun oleh Belanda dan digunakan Jepang sebagai pangkalan udara militer dan pusat logistik minyak, terbukti dengan banyaknya peninggalan pillbox (bunker pertahanan) di sekitar bandara.
Aktivitas Penerbangan Perintis di Bandara Internasional Juwata Tarakan (ist)
Pasca Kemerdekaan: Diambil alih dan digunakan oleh Pertamina sebelum akhirnya bertransformasi menjadi bandara sipil.
Perkembangan Bandara:
Tahun 2000-an: Landasan pacu diperpanjang hingga 1.850 meter, memungkinkan pendaratan pesawat berbadan sempit seperti Boeing 737 dan Airbus A320.
Tahun 2015-2016: Terminal baru berkapasitas lebih besar resmi dibuka untuk mengakomodasi lonjakan penumpang.
Status Internasional: Sempat melayani rute internasional ke Tawau, Malaysia pada tahun 1997-2000 (Bouraq), 2006 (Malaysia Airlines), dan kembali aktif melalui MASwings pada 2012. Sempat dihentikan saat pandemi COVID-19, kini terus diupayakan untuk kembali menjadi hubungan internasional.
Kondisi Saat Ini: Bandara Juwata merupakan gerbang udara utama Kalimantan Utara dengan peran strategis dalam menghubungkan wilayah tersebut ke kota-kota besar di Indonesia.
Bandara ini juga merupakan situs bersejarah yang menjadi saksi pertempuran penting di awal tahun 1942. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan