Senin, 27 APRIL 2026 • 21:19 WIB

Singal di Kepala, Identitas di Hati: Cara Zainal Arifin Paliwang Menjaga Budaya Kaltara

Author

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang mengenakan Singal khas Tidung dalam kegiatan resmi sebagai simbol identitas budaya daerah. (dkisp)

KALTARA  – Bagi Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, Singal bukan sekadar ikat kepala. Lebih dari itu, ia adalah identitas, kebanggaan, sekaligus pesan budaya yang terus ia bawa ke mana pun melangkah.

“Di mana pun saya berada, saya selalu bangga pakai Singal. Saya bawa ke mana-mana,” ucapnya dalam berbagai kesempatan.

Sejak dilantik pada 2021, Zainal menjadikan budaya lokal sebagai bagian penting dalam arah pembangunan daerah. Ia konsisten mengenakan Singal—ikat kepala khas suku Tidung—dalam berbagai agenda, baik di dalam maupun luar daerah. Bahkan, aksesoris ini seakan menjadi ciri khas yang melekat pada dirinya.

Bukan tanpa alasan. Menurutnya, Singal adalah simbol warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Ia ingin budaya lokal tidak hanya hidup dalam seremoni, tetapi menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Langkah itu pun berdampak luas. Penggunaan Singal dan batik khas Kaltara kini semakin masif, termasuk di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Mulai dari seragam dinas hingga ornamen kantor, nuansa budaya lokal mulai mendominasi.

“Kalau kita pakai produk daerah sendiri, kita juga membantu UMKM kita berkembang,” ujarnya.

Efeknya terasa nyata. Pelaku UMKM di Kaltara ikut bergerak, memproduksi berbagai aksesoris budaya seperti Singal hingga batik khas daerah yang kini semakin diminati.

Tak hanya di dalam daerah, Zainal juga aktif memperkenalkan Singal ke luar Kaltara. Dalam setiap kunjungan, ia kerap menjadikan Singal sebagai cinderamata bagi tamu dan pejabat, sebagai bentuk promosi budaya lokal.

Singal sendiri memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam tradisi suku Tidung, terdapat perbedaan antara Singal dan Sesingal. Jika Singal menutup kepala, Sesingal hanya diikat sebagai penanda tertentu. Bahkan arah ikatannya pun memiliki arti—ke kiri melambangkan keberanian untuk berjuang, sementara ke kanan menandakan telah kembali dari perjuangan.

Kini, fungsi Singal berkembang menjadi aksesoris yang dikenakan dalam berbagai kegiatan, baik formal maupun nonformal. Namun, makna budaya yang terkandung di dalamnya tetap dijaga.

Bagi Zainal, menjaga budaya bukan sekadar tugas, tetapi tanggung jawab bersama.

“Kita harus bangga dengan budaya kita sendiri. Apa yang diwariskan leluhur harus kita jaga dan teruskan ke generasi berikutnya,” tegasnya.

Melalui Singal, ia tidak hanya menunjukkan identitas pribadi, tetapi juga menghidupkan kembali kebanggaan kolektif masyarakat Kalimantan Utara terhadap budaya daerahnya.(**Nk)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU