“Kegiatan membatik ini bukan hanya soal produksi, tapi juga membangun keterampilan dan kepercayaan diri warga Warga binaan Lapas Nunukan menampilkan hasil karya batik LaNuka bermotif khas Kalimantan dalam kegiatan pameran. (MA)
KALTARA – Dari balik tembok pembinaan, lahir karya yang tak hanya bernilai seni, tetapi juga membawa kebanggaan daerah. Batik LaNuka, hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIB Nunukan, kini kian dikenal dan diminati hingga menembus pasar nasional.
Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan, I Wayan, mengungkapkan rasa bangganya atas perkembangan batik LaNuka yang terus menunjukkan kualitas dan daya saing. Menurutnya, karya para warga binaan tidak lagi dipandang sebelah mata.
“Batik LaNuka ini menjadi bukti bahwa warga binaan juga mampu berkarya dan menghasilkan produk berkualitas. Kami sangat bangga karena hasil karya mereka sudah digunakan di tingkat nasional,” ujarnya.
Batik LaNuka sendiri mengusung kekhasan lokal, dengan memadukan motif khas Kalimantan dan Nunukan, termasuk corak Lulantatibu. Perpaduan ini menjadikan setiap lembar kain memiliki identitas budaya yang kuat sekaligus nilai estetika tinggi.
Tak hanya dikenal, batik ini juga telah memenuhi berbagai pesanan dari instansi, seperti RSUD Nunukan, Bea dan Cukai, hingga BP2MI. Produksi terus berjalan sejak program membatik dimulai pada tahun 2020, dan kini semakin berkembang.
Teknisi pengelola hasil kerja, Muhammad Arfin, menjelaskan bahwa minat terhadap batik LaNuka terus meningkat, seiring dengan kualitas yang semakin baik.
“Kami terus mengembangkan motif dan kualitas. Saat ini juga sedang mengerjakan pesanan dari beberapa instansi. Ini menjadi bukti bahwa batik LaNuka semakin dipercaya,” jelasnya.
Dari sisi harga, batik LaNuka dibanderol mulai Rp350 ribu per lembar, tergantung motif dan tingkat kesulitan. Hasil penjualan tidak hanya menjadi pemasukan, tetapi juga memberikan premi bagi warga binaan sebagai bentuk apresiasi atas kerja mereka.
Lebih dari sekadar produk, batik LaNuka menjadi sarana pembinaan keterampilan (life skill) bagi warga binaan. Melalui kegiatan ini, mereka dibekali kemampuan yang dapat menjadi bekal saat kembali ke masyarakat.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan