Seekor Bekantan di KKMB Tarakan (MA)
KALTARA – Bekantan menjadi salah satu satwa endemik khas Pulau Kalimantan yang kini identik dengan Tarakan. Hewan berhidung panjang ini banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove dan pesisir, serta menjadi simbol penting pelestarian lingkungan di Kalimantan Utara.
Bekantan atau Nasalis larvatus merupakan satwa endemik Pulau Borneo yang hanya hidup alami di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Di Indonesia, habitatnya tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Tarakan yang memiliki kawasan mangrove cukup luas.
Di Tarakan, bekantan banyak dijumpai di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Kawasan ini menjadi habitat penting bagi satwa tersebut sekaligus destinasi edukasi lingkungan bagi masyarakat dan wisatawan.
Berdasarkan data terbaru 2025–2026, populasi bekantan di kawasan konservasi tersebut mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya hanya berkisar 30 ekor pada 2024, kini jumlahnya mencapai sekitar 40 hingga 41 ekor yang terbagi dalam beberapa kelompok.
Peningkatan populasi ini dinilai menjadi indikator positif terhadap upaya pelestarian mangrove dan perlindungan habitat satwa liar di Tarakan. Bekantan diketahui sangat sensitif terhadap kerusakan lingkungan, terutama hilangnya kawasan mangrove dan tepian sungai yang menjadi sumber makanan serta tempat hidupnya.
Selain dikenal karena hidung panjang pada pejantan, bekantan juga memiliki kemampuan berenang yang baik dan hidup berkelompok di sekitar sungai maupun rawa pesisir. Satwa ini berstatus terancam punah sehingga perlindungan habitat menjadi hal penting untuk menjaga kelangsungan hidupnya.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan