Konektivitas Laut – Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan. (dv)
KALTARA – Deru mesin kapal yang silih berganti bersandar di Pelabuhan Tunon Taka bukan sekadar penanda datang dan perginya pelayaran. Di balik aktivitas bongkar muat yang berlangsung setiap hari, pelabuhan ini menjadi simpul konektivitas yang menghubungkan wilayah perbatasan Kalimantan Utara dengan jaringan distribusi nasional.
Ratusan kontainer berisi beras, gula, minyak goreng, semen, bahan bangunan hingga kebutuhan pokok lainnya berpindah dari kapal ke daratan. Sebaliknya, komoditas unggulan daerah seperti rumput laut dikirim keluar menuju pasar yang lebih luas. Aktivitas tersebut menjadikan Pelabuhan Tunon Taka sebagai urat nadi logistik yang memastikan roda ekonomi masyarakat perbatasan tetap berputar.
Bagi Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, konektivitas laut bukan hanya persoalan transportasi. Jalur laut menjadi penghubung utama antara kawasan terdepan Indonesia dengan pusat-pusat distribusi nasional, sekaligus menjaga stabilitas pasokan barang dan harga kebutuhan masyarakat.
Peran strategis tersebut semakin diperkuat melalui Program Tol Laut yang digagas pemerintah untuk memperpendek rantai distribusi, menurunkan biaya logistik, serta meningkatkan pemerataan pembangunan di wilayah terluar.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Nunukan, Ahmad Kosasi, S.H., mengatakan esensi Program Tol Laut adalah membangun konektivitas yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi hingga ke wilayah perbatasan.
"Tema besarnya memang konektivitas. Melalui program ini pemerintah berupaya memperlancar distribusi barang sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini relatif tinggi. Dampaknya sangat dirasakan masyarakat maupun pelaku usaha," ujarnya, Jumat (03/07/2026).
Menurut Ahmad, keberhasilan konektivitas laut tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kapal, tetapi juga kelancaran seluruh sistem pelayanan kepelabuhanan. KSOP memastikan setiap kapal dapat bersandar, melakukan kegiatan bongkar muat, hingga kembali berlayar sesuai standar keselamatan pelayaran.
"Yang paling utama adalah memastikan kapal dapat beroperasi dengan aman. Tanpa kelancaran operasional kapal, distribusi barang melalui Tol Laut tentu tidak akan berjalan," katanya.
Baca juga: Dewan Pendidikan Kaltara Minta Evaluasi SPMB, Soroti Juknis hingga Sosialisasi kepada Orang Tua
Perkembangan layanan Tol Laut di Nunukan menunjukkan peningkatan signifikan. Jika sekitar lima tahun lalu hanya dilayani dua kapal dengan kapasitas sekitar 60 TEUs, kini meningkat menjadi lima kapal dengan kapasitas mencapai sekitar 200 TEUs.
Dalam satu kali pelayaran, lebih dari 80 kontainer dapat diangkut menuju wilayah perbatasan. Namun, meningkatnya aktivitas distribusi juga memunculkan tantangan baru berupa keterbatasan jumlah kontainer.
"Permintaan pengiriman barang terus meningkat, sedangkan jumlah kontainer yang tersedia masih terbatas. Idealnya diperlukan tambahan sekitar 150 hingga 200 kontainer agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi lebih baik," jelas Ahmad.
Di lapangan, denyut konektivitas itu terlihat dari kesibukan alat bongkar muat yang bekerja hampir setiap hari. Kontainer diturunkan dari kapal, dipindahkan ke lapangan penumpukan,
kemudian didistribusikan menggunakan angkutan darat menuju berbagai wilayah di Nunukan dan daerah sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan