Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 10 AGUSTUS 2025 • 20:06 WIB

"Biduk Udan" Wisata yang Tumbuh dari Konservasi di Dataran Tinggi Krayan

Biduk Udan Wisata yang Tumbuh dari Konservasi di Dataran Tinggi KrayanBuduk Udan adalah bukit berketinggian 1.475 mdpl yang menyajikan panorama khas “negeri di atas awan”. (ist)

KALTARA - Di dataran tinggi Krayan, Kalimantan Utara, bentang alam menghadirkan lanskap yang tak lazim. Terletak tepat di perbatasan Indonesia–Malaysia, Desa Pa’ Kidang menyimpan destinasi yang mulai ramai dikenal bernama Buduk Udan.

Buduk Udan adalah bukit berketinggian 1.475 mdpl yang menyajikan panorama khas “negeri di atas awan”. Setiap pagi dan sore, kabut bergulung menyelimuti punggung bukit.

Dari puncaknya, dataran tinggi Krayan tampak seperti pulau-pulau hijau di lautan putih awan. Untuk menuju Buduk Udan, wisatawan harus menempuh perjalanan udara menuju Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan.

Ada empat penerbangan menuju bandara ini antara lain dari Nunukan, Tarakan, Malinau, dan Berau. Dari Bandara kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Desa Pa’ Kidang. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalur tracking sejauh 5 kilometer menuju puncak.

Buduk Udan menjadi ikon wisata baru yang dikelola langsung oleh Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur, kelompok binaan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Selain menyuguhkan panorama puncak dan kabut, jalur trekking menuju Buduk Udan juga melewati kawasan habitat Rafflesia pricei, salah satu bunga langka dan dilindungi di Indonesia.

“Buduk Udan merupakan lokasi wisata andalan di desa kami. Sampai saat ini jumlah kunjungan yang datang sangat banyak, berasal dari wisatawan lokal maupun dari luar Krayan, bahkan dari negara tetangga (Malaysia),” kata Doni, Ketua Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur.

Doni menjelaskan, kehadiran wisata ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa. Sejak berkembangnya Buduk Udan sebagai destinasi alam, Desa Pa’ Kidang meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Desa ini masuk dalam 100 besar desa wisata terbaik nasional, sekaligus 10 besar terbaik se-Kalimantan Utara.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang terkait peningkatan kapasitas kelompok wisata dan bantuan sarana prasarana,” ujarnya.

Pengelolaan wisata Buduk Udan sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat desa melalui Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur. Konsep yang dikembangkan adalah wisata berbasis komunitas, tanpa hotel atau kafe modern, pengunjung diajak tinggal di homestay warga, makan makanan rumahan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Dayak Lundayeh.

Bagi pengunjung yang menginginkan fasilitas penginapan lebih lengkap, tersedia beberapa hotel dan penginapan di Long Bawan, yang menjadi pintu masuk utama Krayan sekaligus pusat transportasi dan logistik kawasan ini.

Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, menjelaskan bahwa pengembangan Buduk Udan merupakan bagian dari pendekatan konservasi berbasis masyarakat. Balai TNKM aktif mendampingi warga desa penyangga taman nasional untuk mengelola potensi wisata tanpa merusak ekosistem.

“Desa Pa’ Kidang merupakan salah satu desa penyangga dan desa binaan kita. Di sana sudah dibentuk kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur,” kata Seno.

Berbagai pelatihan telah dilakukan, termasuk pelatihan kepemanduan serta bantuan sarana dan prasarana. Balai TNKM juga membentuk kelompok monitoring khusus untuk Rafflesia pricei, agar masyarakat dapat mengenali masa tumbuh dan mekar bunga tersebut, serta menginformasikan kepada wisatawan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

"Biduk Udan" Wisata yang Tumbuh dari Konservasi di Dataran Tinggi Krayan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!