KALTARA – Peredaran uang rupiah di wilayah kepulauan menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). Hasil survei menunjukkan sekitar 80 persen uang yang beredar di sejumlah kawasan kepulauan sudah waktunya ditukar dengan uang yang lebih layak.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan layanan kas melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026. Tahun ini, BI bersama TNI Angkatan Laut membawa uang layak edar senilai Rp6 miliar untuk menjangkau lima pulau.
Ekspedisi dilepas dari Markas Komando Daerah Maritim (Kodaeral) XIII Tarakan, Selasa (14/7/2026), menggunakan KRI Ajak-653.
Lima wilayah yang menjadi tujuan yakni Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan Pulau Derawan.
Baca juga: Komisi IV Bedah Layanan RSUD Jusuf SK, Supa'ad Dorong Pembenahan Berkelanjutan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Haris Munandar, mengatakan uang yang telah lama beredar sebaiknya tidak menunggu hingga rusak berat sebelum ditukarkan.
“Kalau dari hasil survei kami, sekitar 80 persen uang memang sudah waktunya ditukar. Tapi bukan berarti tidak layak edar,” ujar Haris.
Menurutnya, masyarakat dapat menukarkan uang ketika kondisinya mulai lusuh. Langkah itu sekaligus membantu menjaga kualitas rupiah yang beredar.
“Alangkah baiknya masyarakat tidak menunggu uang benar-benar lusuh atau robek baru ditukar,” katanya.
Rp6 Miliar Dibawa Menyeberangi Laut
Dalam ekspedisi tersebut, BI membawa uang layak edar senilai Rp6 miliar dengan berbagai pecahan.
Uang itu disiapkan tidak hanya untuk mengganti rupiah lusuh maupun rusak. Masyarakat yang membutuhkan pecahan lebih kecil untuk aktivitas ekonomi sehari-hari juga dapat memanfaatkan layanan penukaran.
“Rp6 miliar itu ada pecahan kecil maupun pecahan yang lebih besar. Kalau masyarakat membutuhkan pecahan lebih kecil untuk ke pasar atau keperluan lainnya, bisa kami layani,” jelas Haris.
BI berharap uang yang dibawa dapat tersalurkan secara optimal selama perjalanan ekspedisi.
“Sepanjang persediaan masih tersedia, kami akan senang jika seluruh uang yang kami bawa dapat tersalurkan,” ujarnya.
Haris menegaskan kebutuhan masyarakat terhadap uang rupiah berlangsung setiap hari. Sementara akses layanan kas di wilayah kepulauan tidak selalu semudah di perkotaan.
“Kebutuhan rupiah bukan setahun sekali, tetapi setiap hari,” tegasnya.
150 Kali Berlayar Sejak 2012
Ekspedisi Rupiah Berdaulat telah dilaksanakan sejak 2012. Hingga kini, sekitar 150 perjalanan telah dilakukan untuk menjangkau berbagai wilayah Indonesia.
Namun, Haris menilai jumlah tersebut masih belum sebanding dengan luasnya wilayah kepulauan Indonesia.
“Jumlah pulau berpenghuni di Indonesia sekitar 1.000 pulau. Tentunya ini masih jauh dari cukup,” katanya.
Karena itu, sinergi BI dan TNI AL terus dilakukan untuk menjangkau masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
Selain pelayanan kas, tim ekspedisi juga memberikan edukasi mengenai cara mengenali keaslian rupiah melalui metode dilihat, diraba, dan diterawang.
Menurut Haris, sedikitnya terdapat tujuh unsur pengaman pada rupiah yang dapat dikenali masyarakat.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir karena ada banyak ciri yang bisa dikenali untuk memastikan uang tersebut asli,” pungkasnya. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan