Sabtu, 23 MEI 2026 • 08:59 WIB

Batik LANUKA Jadi Harapan Baru Warga Binaan Lapas Nunukan

Author

Warga binaan Lapas Kelas IIB Nunukan mengikuti kegiatan pembuatan Batik LANUKA dengan motif khas budaya Kalimantan Utara. (ma)

KALTARA  – Kegiatan membatik di Lapas Kelas IIB Nunukan tidak hanya menjadi program pembinaan keterampilan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP), tetapi juga membuka harapan baru untuk masa depan mereka setelah bebas nanti.

Melalui program pembuatan Batik LANUKA, para warga binaan dilatih menghasilkan karya batik tulis bernuansa budaya khas Kalimantan Utara dengan berbagai motif etnik daerah.

Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan, I Wayan Nurastwa Wibawa, mengatakan program pembinaan kerja tersebut bertujuan memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan agar memiliki peluang usaha setelah kembali ke masyarakat.

Menurutnya, banyak warga binaan yang awalnya tidak memiliki kemampuan membatik, kini sudah mampu menghasilkan batik tulis dengan motif khas daerah.

“Setelah mendapat bimbingan dari petugas, warga binaan sekarang sudah mampu membuat berbagai motif batik, termasuk ornamen budaya khas Kaltara,” ujarnya.

Salah satu motif yang dikembangkan adalah motif Lulantatibu, akronim dari sejumlah etnis di Kaltara yakni Lundayeh, Tegal, Tahol, Tidung, dan Bulungan.

Sementara itu, Teknisi Hasil Kerja Lapas Nunukan, Muhammad Arfin, menjelaskan hasil penjualan batik juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga binaan yang terlibat.

Sebanyak 35 persen dari hasil penjualan batik diberikan kepada kelompok warga binaan pengrajin batik.

“Nilainya dibagi rata kepada kelompok yang mengerjakan batik tersebut sebagai bentuk apresiasi atas hasil karya mereka,” jelasnya.

Salah satu warga binaan, Rus (35), mengaku memilih program membatik karena memiliki dasar kemampuan melukis menggunakan teknik air brush sebelum menjalani masa pidana.

Menurutnya, keterampilan membatik yang didapat di dalam lapas bisa menjadi peluang usaha tambahan ketika kembali bebas nanti.

“Saya merasa keterampilan ini bisa menjadi usaha yang dikembangkan setelah bebas,” katanya.

Hal serupa disampaikan Yul, warga binaan asal Tarakan yang sebelumnya berstatus ibu rumah tangga. Ia mengaku awalnya tidak memiliki keterampilan kerja, namun kini sudah mampu menggunakan canting dan membuat motif batik tulis.

“Saat bebas nanti saya ingin mengembangkan usaha batik, apalagi penggunaan batik sekarang semakin luas di masyarakat,” ujarnya.

Program Batik LANUKA di Lapas Nunukan menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus upaya mengenalkan budaya lokal melalui karya batik khas daerah.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU